13 December 2010

kesabaran suami terhadap sang istri


Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa, menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. ia ingin mengadu pada khalifah karena tak tahan dengan kecerewetan istrinya. sebagai seorang suami dan laki-laki, ia merasa diremehkan dan diinjak-injak harga dirinya. begitu sampai di depan rumah sang khalifah, orang tersebut mengucapkan salam dan menunggu khalifah membuka pintu rumahnya. sat menunggu, laki-laki itu tertegun. dari dalam rumah, terdengar istri Umar sedang mengomel, marah-marah. cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah.

Umar keluar dari rumahnya untuk menemui sang tamu, sang tamu sudah sedikit berlalu dari rumahnya. karena orang tersebut masih terlihat oleh Umar, maka ia memanggilnya. "Ada perlu apa wahai saudaraku?" tanya Umar setelah orang itu balik lagi kepadanya.

"Wahai Amirul mukminin, aku datang kepadamu hendak menyampaikan keluhanku tentang perilaku istriku yang kurang baik dan kurang menghormatiku. begitu lancang mulutnya merendahkanku. namun, tatkala aku mendengar suara istrimu dengan suara tinggi memarahimu, sedang engkau tidak membantah sedikitpun, aku segera berbalik tidak jadi melapor. aku malu pada diriku sendiri. itu kondisimu dengan istrimu, padahal engkau seorang pemimpin negara. bagaimana dengan aku ini, hanya rakyat biasa."

apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan berdiam diri saat istrinya ngomel dan marah-marah?? mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?? khalifah Umar berdiam diri karena teringat 5 fungsi istrinya, yaitu :

1. Menundukkan Pandangan
salah satu kelemahan laki-laki adalah matanya. jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah asmara rayuan syetan bermunculan di matanya, seperti anak panah yang lepas dari busurnya. ia membidik setiap aurat yang elok di pandang yang berada di sekitarnya. panah asmara yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa yang sedang tidur dalam dirinya. sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal, nafsu syahwat. itulah sebabnya, menikah merupakan solusi untuk menundukkan pandangan, sehingga pandangan mata tidak akan jelalatan lagi, sebab sudah ada yang halal dan baik.

Khalifah Umar tidak perlu melayani kemarahan sang istri karena ia selalu berada disisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora, biar lepas dan tersalurkan dengan benar, sehingga bukan azab yang kelak diterimanya melinkan dua kenikmatan sekaligus, dunia dan akhirat.

2. Pemelihara Rumah
dari pagi hingga sore hari, sang suami bekerja dan ikhtiar untuk menunaikan amanat Allah dan menghidupi keluarganya, bahkan kadang harus pulang sampai larut malam. untunglah ada istri yang selalu menjaga rumah, memelihara diri dan harta sang suami sehingga ia siap menjadi pemelihara selama 24 jam penuh tanpa bayaran.

khalifah Umar sangat menghormati peran istrinya tersebut sehingga bagi beliau, tak ada salahnya kalau sekali-kali ia mendengarkan omelan istrinya. karena, mungkin saja ia capek dan lelah menjaga harta-harta sang suami, atau mungkin BT dengan suasana rumah.

3. Penjaga Penampilan
pada umumnya, laki-laki tidak begitu pula dengan penampilan, sebab mereka cenderung menggunakan rasio daripada emosi atau perasaan. itulah sebabnya, kehadiran seorang istri di sisi laki-laki sering membawa perubahan dari segi penampilan. demikian juga dengan Amirul Mukminin Umar bin Khatab.

4. Pengasuk Anak-anak
suami menyemai benih di ladang rahim istro. benih itu kemudian tumbuh bersemi dan mekar. sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih tersebut hingga lahir tunas yang menggembirakan. tak terhenti sampai situ, istri juga merawat tunas agar tumbuh besar, kokoh dan kuat.

5. Penyedia Hidangan
sebagai suami, pergi pagi pulang sore untuk mencari nafkah keluarga, tapi sebagai istri, wanita sudah menyediakan hidangan untuk makan, menyediakan minuman untuk menggan energi dan ion-ion yang telah hilang. sang suami tak perlu lagi memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilih cabai dan bawang. tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah, semua itu sudah tersedia berkat peran istri.

paling tidak, dengan mengingat peran istri ini, seorang suami akan diam setiap istrinya ngomel. mungkin dia capek, jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. istri telah mencuci dan membersihkan pakaian suami, menyusi anak-anaknya, menyediakan hidangan, padahal semua itu bukanlah kewajibannya. untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

khalifah Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati dengan cara yang baik, dengan sedikit canda hingga terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji. membaca tulisan yang berisi kisah Umar ini memang tidak sulit, namun saat hendak mempraktikannya, ternyata perlu semangat dan keinginan yang kuat agar kelezatan akhirat benar-benar dapat dirasakan. wallahu'alam..

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah dengan bahasa persatuan, bahasa Indonesia.. ^_^

Post a Comment